Makanan Pendamping ASI (MP ASI)

Posted on : February 29, 2016 | post in : HEALTH |1 Reply |

mpasiMenurut WHO yang dimaksud makanan adalah: “Food include all  substances,  whether  in  a natural  state  or  in  a  manufactured  or preparedform, wich are part of human diet.” Batasan makanan tersebut tidak  termasuk air, obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk tujuan pengobatan. Makanan yang dimaksud makanan adalah berupa asupan yang dapat memenuhi kebutuhan akan zat gizi dalam tubuh (Depkes RI, 2007).

Makanan dapat diartikan sebagai semua zat yang dapat digunakan dalam metabolisme untuk memperoleh energi. Agar dapat digunakan dalam proses metablisme, makanan harus disedehanakan terlebih dahulu sehingga makanan akan berwujud molekul zat yang paling kecil yang dapat diserap oleh sel-sel tubuh. Proses penyederhanaan ini disebut proses pencernaan.

Agar tubuh kita tetap sehat, makanan harus mengandung semua zat yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh. Dengan kata lain makanan harus mengandung gizi yang baik. Makanan bergizi yang kita butuhkan harus mengandung beberapa zat, yaitu karbohidrat, protein, lemak, garam mineral dan vitamin.

Pengertian Makanan Pendamping ASI (MP ASI)

Pengertian makanan pendamping ASI (MP ASI) adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan pada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Makanan pendamping ASI diberikan dari umur 6 bulan sampai dengan 24 bulan. Semakin meningkatnya umur bayi/anak, kebutuhan zat gizi semakin bertambah untuk tumbuh kembang anak, sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi (Depkes RI, 2007).

Pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) merupakan proses transisi dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat.  Untuk proses ini juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Ketrampilan  motorik  oral  berkembang  dari  refleks  menghisap  menjadi menelan  makanan  yang  berbentuk  bukan  cairan  dengan  memindahkan makanan  dari  lidah  bagian  depan  ke  lidah  bagian  belakang.  Makanan pendamping ASI adalah makanan  atau minuman yang mengandung zat gizi, diberikan  kepada bayi atau anak usia  6-24 bulan guna  memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI. Sedangkan pengertian makanan itu sendiri adalah merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar  bermanfaat bagi tubuh (Irianto dan Waluyo, 2004).

Menurut Waryana (2010) makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan tambahan yang diberikan kepada bayi setelah bayi berusia 6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Jadi selain makanan pendamping ASI, ASI harus tetap diberikan kepada bayi paling tidak sampai berusia 24 bulan. Peranan makanan pendamping ASI sama sekali bukan untuk menggantikan ASI melainkan hanya melengkapi ASI.

Kriteria MP ASI

Menurut  Irianto  dan  Waluyo  (2004)  dalam  pemberian  makanan pendamping ASI yang dikonsumsi  hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, serta makanan tersebut sehat, diantaranya: Berada dalam derajat kematangan.

  • Bebas dari pencemaran pada saat menyimpan makanan tersebut dan menyajikan hingga menyuapi pada bayi atau anak dari perubahan  fisik,  kimia  yang  tidak  dikehendaki,  sebagai akibat   dari   pengaruh   enzym,   aktifitas   mikroba,   hewan   pengerat, serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.
  • Bebas dari  mikroorganisme  dan  parasit  yang  menimbulkan  penyakit yang dihantarkan oleh makanan (food borne illness).
  • Harus cukup mengandung kalori dan vitamin. Mudah dicerna oleh alat pencernaa

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan dalam MP ASI

Prinsip pengaturan makanan bagi anak usia di bawah lima tahun, termasuk di dalamnya usia 24 bulan adalah pemanfaatan ASI secara cepat, pemberian makanan pendamping ASI sebagai makanan sapihan serta makanan setelah usia 1 tahun. Langkah-langkah dalam pengaturan makanan dan pemeliharaan gizi anak usia 24 bulan adalah: Cukupilah kebutuhan akan bahan makanan pemberi kalori, susuilah anak selama mungkin sepanjang ASI masih keluar, gunakanlah gabungan bahan makanan sumber protein nabati terutama kacang-kacangan atau hasilnya (tempe, tahu, dsb), gunakanlah sumber protein hewani setempat yang mudah didapat dan murah (Waryana, 2010).

Menurut Waryana (2010) bubur susu cocok untuk bayi usia 6 bulan ke atas, teksturnya yang lembut mudah dicerna dan diserap alat pencernaan bayi. Penambahan tepung seperti tepung beras atau tepung maizena bisa dilakukan. Tujuan penambahan tepung adalah meningkatkan nilai gizi dari bubur, susu sebagai sumber protein dan tepung sebagai sumber karbohidrat pemberi energi bayi. Sebenarnya variasi makanan bayi tidak hanya bubur susu. Jika menggunakan susu olahan berikan susu formula yang sesuai dengan usia bayi.   Selain  melihat  kriteria  diatas,  menurut  Depkes  RI   (2007) menyatakan  bahwa  pemberian  makanan  pendamping  ASI  hendaknya dapat memperhatikan, sebagai berikut:

Usia Pemberian Makanan Pendamping ASI

Menurut Depkes RI (2007) usia pada saat pertama kali pemberian makanan pendamping ASI pada anak yang tepat dan benar adalah setelah anak berusia enam bulan, dengan tujuan agar anak tidak mengalami infeksi atau  gangguan pencernaan  akibat virus atau bakteri.  Berdasarkan  usia anak, dapat diketegorikan menjadi:

  • Pada usia 6 sampai 9 bulan
  1. Memberikan makanan lumat dalam tiga kali sehari dengan takaran yang c
  2. Memberikan makanan selingan satu hari sekali dengan porsi kec
  3. Memperkenalkan bayi atau anak dengan beraneka ragam bahan makana
  4. Buah, bubur susu, dan tim halus dalam setiap hari.

Menurut Waryana (2010) pada usia 6-9 bulan tekstur, makanan sebaiknya makanan cair, lembut atau cair, lembut atau saring, seperti bubur buah, bubur susu atau bubur sayuran saring/dihaluskan. Bayi berumur 6-9 bulan mulai dapat diperkenalkan dengan makanan lembut yaitu berupa nasi tim saring,  bubur tepung dan makanan lembek yaitu berupa Tim saring bubur tepung dan lambat laun pindah ke makanan lembut seperti tim saring.

Tim saring dapat dibuat sendiri yang terdiri dari bahan-bahan sebagai berikut: makanan pokok (beras) 20 gr, lauk hewani (daging ayam) 25 gr, lauk nabati (tahu tempe) 20 gr, sayuran (wortel bayam) 25 gr, air 3-4 gelas dan ASI terus diberikan sesuka bayi.

Menurut Arisman (2004) pada usia 6-9 bulan bayi setidak-tidaknya membutuhkan empat porsi, jika dengan takaran tersebut bayi masih kelaparan, berilah makanan selingan seperti pisang atau biskuit. Buah-buahan merupakan makanan selingan yang sempurna, bayi membutuhkan sesuatu untuk di makan setiap dua jam, begitu ia terbangun.

  • Pada usia lebih dari 9 sampai 12 bulan
  1. Memberikan makanan lunak dalam tiga kali sehari dengan takaran yang c
  2. Memberikan makanan selingan satu hari sekali.
  3. Memperkenalkan bayi  atau  anak  dengan  beraneka  ragam  bahan makanan.
  4. Buah, bubur susu/biskuit, dan tim kasar dalam setiap hari.

Menurut Waryana (2010) mengatakan menginjak usia 10-12 bulan, bayi mulai beralih ke makanan kental dan padat namun tetap memperhatikan rasa. Hindari makan-makanan yang dapat mengganggu organ pencernaan, seperti makanan terlalu berbumbu tajam, pedas, terlalu asam atau berlemak. Pada masa ini dikenalkan finger snack atau makanan yang bisa dipegang seperti cookies, nugget atau potongan sayuran rebus atau buah. Selain itu bayi umur 9-12 bulan dapat diberi makanan lunak berupa bubur nasi lengkap atau tim lengkap tanpa disaring lagi. Bayi jangan diberi makanan yang terlalu banyak mengandung minyak, nargarin atau mentega karena lemak yang dikandungnya akan memperberat kerja pencernaannya. Nasi Tim merupakan makanan bayi lengkap gizi, sebagaimana makanan perintis untuk nasi remas lengkap atau hidangan makanan pokok beserta lauk pauk untuk orang dewasa dan ASI terus diberikan sesuka bayi.

  • Pada usia lebih dari 12 sampai 24 bulan
  1. Memberikan makanan keluarga tiga kali sehar
  2. Memberikan makanan selingan dua kali sehar
  3. Memberikan beraneka ragam bahan makanan setiap hari.
  4. Buah, Snack, dan Nasi

Menurut Arisman (2004) menginjak usia 9 bulan bayi telah mempunyai gigi dan mulai pandai mengunyah kepingan makanan. Sekitar usia 1 tahun bayi sudah mampu memakan makanan orang dewasa. Pada saat itu mungkin empat sampai lima kali sehari. Anak usia 2 tahun memerlukan makanan separuh takaran orang dewasa.

Frekuensi Pemberian Makanan Pendamping ASI

Menurut Depkes RI (2007) frekuensi dalam pemberian makanan pendamping ASI yang tepat biasanya diberikan tiga kali sehari. Pemberian makanan pendamping ASI dalam frekuensi yang berlebihan atau diberikan lebih dari tiga kali sehari, kemungkinan dapat mengakibatkan terjadinya diare.

Menurut  Irianto  dan  Waluyo  (2004),  apabila  dalam  pemberian makanan pendamping ASI terlalu berlebihan atau diberikan lebih dari tiga kali   sehari,  maka  sisa  bahan  makanan  yang  tidak  digunakan  untuk pertumbuhan,  pemeliharaan sel, dan energi akan diubah menjadi lemak. Sehingga apabila anak  kelebihan lemak dalam tubuhnya,  dimungkinkan akan mengakibatkan alergi atau  infeksi dalam organ tubuhnya dan bisa mengakibatkan kelebihan berat badan.

Porsi Pemberian Makanan Pendamping ASI

Menurut   Depkes   RI   (2007)   untuk   tiap   kali   makan,   dalam pemberian porsi yang tepat adalah sebagai berikut:

  • Pada usia enam bulan, beri enam sendok makan
  • Pada usia tujuh bulan, beri tujuh sendok makan
  • Pada usia delapan bulan, beri delapan sendok makan
  • Pada usia sembilan bulan, beri sembilan sendok makan
  • Pada usia 10 bulan, diberi 10 sendok makan

Jenis Makanan Pendamping ASI

Dalam pemilihan jenis makanan, biasanya diawali dengan proses pengenalan terlebih  dahulu  mengenai  jenis  makanan yang  tidak menyebabkan alergi,  umumnya  yang mengandung kadar protein  paling rendah  seperti serealia (beras merah atau beras putih).  Khusus sayuran, mulailah dengan yang rasanya hambar seperti kentang, kacang hijau, labu, zucchini. Kemudian memperkenalkan makanan buah alpukat, pisang, apel dan pir.

Menurut Depkes RI (2007) jenis makanan pendamping ASI yang baik adalah terbuat dari bahan makanan yang segar, seperti tempe, kacang- kacangan,  telur ayam,  hati  ayam,  ikan,  sayur mayur  dan  buah-buahan. Jenis-jenis makanan pendamping yang tepat dan diberikan sesuai dengan usia anak adalah sebagai berikut:

  1. Makanan lumat

Makanan lumat adalah makanan yang dihancurkan,  dihaluskan atau disaring dan bentuknya lebih lembut atau halus tanpa ampas. Biasanya makanan lumat ini diberikan saat anak berusia 6-9 bulan. Contoh dari makanan lumat antara lain berupa bubur susu, bubur sumsum,  pisang saring atau dikerok, pepaya saring dan nasi tim saring.

  1. Makanan lunak

Makanan lunak adalah makanan yang dimasak dengan banyak air atau teksturnya  agak  kasar  dari  makanan  lumat.   Makanan  lunak   ini diberikan ketika anak usia  9-12 bulan.  Makanan ini berupa bubur nasi, bubur ayam, nasi tim, kentang puri.

  1. Makanan padat

Makanan padat adalah makanan lunak yang tidak nampak berair dan biasanya  disebut  makanan  keluarga.  Makanan  ini  mulai  dikenalkan pada anak saat berusia 12-24 bulan. Contoh makanan padat antara lain berupa lontong, nasi, lauk-pauk, sayur bersantan, dan buah-buahan.

Cara Pemberian Makanan Pendamping ASI

Menurut Depkes RI (2007) pemberian makanan pendamping ASI pada anak yang tepat dan benar adalah sebagai berikut :

  1. Selalu mencuci tangan sebelum mulai mempersiapkan makanan pada bayi atau anak, terutama bila kontak dengan daging, telur, atau ikan mentah, dan  sebelum memberi makanan pada bayi atau anak. Selain itu, juga mencuci tangan bayi atau anak.
  1. Mencuci bahan makanan (sayuran, beras, ikan, daging, dll) dengan air mengalir  sebelum  diolah  menjadi  makanan  yang  akan  diberikan kepada bayi atau anak.
  2. Mencuci kembali  peralatan  dapur  sebelum  dan  sesudah  digunakan untuk memasak, walaupun peralatan tersebut masih tampak bersih.
  3. Peralatan makan bayi atau anak, seperti mangkuk, sendok, dan cangkir, harus dicuci kembali sebelum digunakan oleh bayi atau anak.
  4. Dalam  pemberian   makanan   pendamping   pada   bayi   atau   anak, hendaknya berdasarkan tahapan usia anak.
  5. Jangan menyimpan makanan yang tidak dihabiskan bayi atau anak. Ludah yang terbawa oleh sendok bayi atau anak akan menyebarkan bakteri.

Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Balita

Makanan bayi usia 0 bulan sampai dengan 24 bulan harus ibu persiapkan sejak dini. Selain itu, pemberian ASI ekslusif harus ibu tetap berikan secara rutin agar asupan gizi si bayi tetap terjaga. Makanan bayi usia awal bulan tidak hrus ibu berikan setiap hari, karena makanan ini hanya pendamping saja. Tahapan pemberian makanan anak umur 0 sampai 24 bulan sesuai dengan bertambahnya umur bayi dan anak, perkembangan dan kemampuan bayi dan anak menerima makanan dibagi menjadi 4 tahapan umur: Makanan bayi umur 6 bulan keatas, Makanan bayi umur 6-9 bulan, Makanan bayi umur 9-12 bulan, dan makanan bayi umur 12-24 bulan.

Dampak Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Balita

Dampak pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini kepada bayi dapat berakibat buruk. Menurut Pudjiadi (2000), bayi belum siap untuk menerima makanan semi padat kira-kira berumur 6 bulan, dan makanan itu belum dirasakan perlu sepanjang bayi tersebut mendapatkan ASI yang cukup. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya berbagai penyakit seperti gangguan menyusui, beban ginjal yang terlalu berat dan mungkin gangguan terhadap selera makan.

  • Dampak Resiko Jangka Pendek

Resiko jangka pendek jika bayi mendapat MP-ASI terlalu dini yaitu sebagai berikut:

  1. Gangguan Menyusui. Pengenalan makanan selain ASI secara dini akan menurunkan frekuensi dan intensitas pengisapan bayi, sehingga resiko untuk terjadinya penurunan ASI semakin besar.
  2. Penurunan absorbsi besi dari ASI. Pengenalan serealia dan sayuran-sayuran tertentu dapat mempengaruhi penyerapan zat besi dari ASI, walaupun konsentrasi zat besi rendah, tetapi lebih mudah.
  3. Penyakit Diare. Resiko jangka pendek pada bayi yang mendapat makanan pendamping ASI terlalu dini adalah penyakit diare.
  • Resiko Jangka Panjang

Menurut Syarief (1993) yang dikutip oleh Simanjuntak, E, (2009), beberapa resiko jangka panjang dalam pemberian MP-ASI sejak dini adalah:

  1. Pemberian makanan pada bayi sejak usia dini dapat mengakibatkan kegemukan pada bayi. Bayi yang mendapat ASI tampaknya dapat mengatur masukan konsumsi sehingga konsumsi mereka dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.
  2. Beban ginjal yang berlebihan dan hiperosmolaris. Makanan padat, banyak mengandung kadar Natrium Khlorida (NaCl) tinggi yang akan menambah beban ginjal. Beban tersebut masih ditambah oleh makanan pendamping lainnya yang mengandung daging.
  3. Peranan faktor diit dalam patogenesis dan penyakit jantung ischemic tidak dipungkiri lagi. Faktor nutrisi yang terlibat disini antara lain: diit yang mengandung tinggi energi atau kalori dan kaya akan kolestrol serta lemak- lemak jenuh, sebaliknya kandungan lemak tak jenuh yang rendah.
  4. Alergi terhadap makanan. Belum matangnya sistem kekebalan usus pada umur yang dini, dapat menyebabkan banyak terjadinya alergi terhadap makanan pada masa kanak- kanak. ASI kadang-kadang dapat menularkan penyebab-penyebab alergi dalam jumlah yang cukup banyak untuk menyebabkan gejala-gejala klinis, tetapi pemberian makanan pendamping yang dini menambah terjadinya alergi terhadap makanan.

One Comment

  1. I see you don’t monetize your site, don’t waste your traffic, you can earn extra bucks
    every month because you’ve got high quality content. If you want to know how
    to make extra $$$, search for: Boorfe’s tips best adsense alternative

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Theme Designed Bymarksitbd